Kamis, 03 Juli 2014

Aku Simpulkan Kau Penyimpul Ku


 Teduh rembulan malam ini, atau ia memang malu-malu menampakkan diri?. Anginpun terseok-seok menikmati malam, menyelusup dalam ruang-ruang hampa. Sejuk. meski langit hitam pekat, tapi Sang Pencipta selalu memiliki cara untuk membuatnya indah. Indah, lebih indah dari segala pengimajinasian manusia.
            Jalanan seperti biasanya, mengisahkan jejeran kendaraan simpang siur kian kemari, seperti waktu yang terus memacu masa dan usia, namun waktu lebih unggul dari kendaraan tercanggih manapun, waktu selalu gagah tak terkalahkan. Hingga waktu mengajakku sampai pada malam ini, bersamaan dengan seorang bermata sayu, dan teduh. Berkacamata.
            Kisah-demi kisah terurai melalui kata-kata yang tersimpul dalam kalimat-kalimat indah, seiring dengan pergerakan rembulan yang tepat berada diatas kepalaku tepat saat mataku menatapnya. Teduh. Kalimat itu butuh simpulan, saat sebelum rintik langit berjatuhan menimpuki tubuhku. Iya, simpulan yang belum juga aku temukan setelah deretan cerita yang ia beberkan, gadis itu. Bahkan setelah santapan berbuka itu hampir mengering, dimanakah simpulan itu?. Bingung.
            Bingung. tingkahnya lalu membuatku tertawa geli. Entah lucu, atau saking tak ada respon yang tepat selain tertawa geli. Bukan maksud hati untuk merendahkan, namun aku sendiri turut bingung. Bingung. Ia menjamur jua dalam otakku, semakin bercokol saat sebelum simpulan itu aku temukan. Lalu kemudian diam tanpa seditkitpun kata yang terucap, selain hanya dengusan nafas-nafas panjang. Semakin bingung.
            Aku tengok gelas itu mulai kosong, teh sudah aku habiskan. Tiada alasan lagi untuk bisa aku mainkan hanya sekedar untuk menutupi perasaanku. Perasaan yang mulai makin aneh dan tak bisa aku fahami selain aku hanya sekedar tau artinya “mencintai”, sementara aku sendiri tak punya alasan apa, dan atau bagaimana.
            Aku ingin mengatakannya, saat pilihan itu jatuh padaku. Namun aku tak punya kata yang tepat dan indah untuk sekedar mengatakan apa yang seharusnya aku katakan. Kalimat tanya itu tersendat di kerongkonganku, terjegat oleh canggung yang mulai menyigapku dari depan belakang. Diam lagi-lagi.
            Benda yang biasa iya selipkan diantara telinga dan didudukkan di hidungpun aku mainkan, mencoba mengajak benda itu untuk sekedar memberiku dorongan. Tapi benda itu malah tersipu malu. Diam lagi-lagi.
Simpulanpun aku dapatkan, setelah aku kumpulkan segala sisa-sisa kata yang aku miliki. Sirnalah sudah si bingung pembuat gelisah tepat saat simpulan itu aku rajut dengan kemudian, “Iya”. PujiSuciAstuti. Jaga dirimu, hatimu. Ingatkanku, hatiku.

Selasa, 11 Desember 2012

KADO UNTUK SAMUEL

“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.”
Dewa Klasik Alexander
(  @MotivatorSuper )
12926784181062922423
12915650891304406632
Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku. Matanya menatapku. Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.
“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak laki-laki tersebut.
“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”
“Kasihan kenapa, bu?”
“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit. Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”
“Begitu ya, bu!”
Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki. Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya.
“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.
Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong? Tapi nama kamu siapa?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah disikat.
“Namaku Samuel Lie. Dipanggilnya Samuel. Kalau kakak?”
“Dewantara, panggil saja kak Tara!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.
“Yuk, kita makan.”
“Di mana kak?”
“Tuh ada warteg!” ucapku sambil menunjuk sebuah warteg.
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir copot. Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku pesan sudah tidak tersisa lagi. Sampai menjilat jarinya segala.
“Terima kasih ya, kak!” ucapnya dengan malu-malu.
“Sama-sama,” balasku terharu meski aku tahu jatah makan malamku sudah tidak ada lagi.
*****
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 2×1,5 meter. Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.
“Aku panggil kakak dengan sebutan Ko Dewa ya?”
Aku menatapnya dengan keheranan di antara terang yang dipancarkan lilin kecil. Anehkan? Kos yang aku tinggali hanya seratus ribu sebulan. Tanpa listrik dan tanpa kamar mandi. Jadi kalau mau mandi harus ke WC umum. Itu pun harus bayar. Suara kereta api yang lewat persis di depan kosku sudah menjadi musik tersendiri bagiku. Kata orang ada harga, ada mutu. Seperti itulah gambaran kos di pinggiran rel kereta api.
“Dulu aku punya koko.”
“Trus koko kamu di mana sekarang?”
Hening. Sunyi. Bisu.
“Koko… Koko meninggal karena sakit sama seperti papa. Namanya Ko Daniel.”
Kembali kesunyian mencekam.
“Ngga apa-apakan kalau aku manggil kakak dengan panggilan Ko Dewa?”
Aku berusaha untuk tersenyum, “panggil saja Ko Tara, ya?”
“Oklah kalau begitu.”
Aku tertawa dengan tingkah lakunya yang masih polos.
Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap. Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi karena kelaparan.
*****
12915651631596054007
“Koko pengen punya toko sendiri,” celotehku ketika mengajaknya ke tempatku bekerja. “Ngga perlu besar, yang penting milik sendiri.”
“Kenapa ngga jadi koki saja?”
“Koki?”
“Iya. Bisa makan sepuasnya. Kita makan ya ko?”
“Kamu lapar?”
“Lapar setengah mati.”
“Tapi uang koko tinggal seribu rupiah. Cuma bisa beli gorengan.”
Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.”
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng. Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya!”
“Ngga mau! Koko kan belum makan apa-apa dari semalam?”
Dengan berat hati aku memakannya juga.
Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian menutupnya. Gajinya sih cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang ada di toko Ko Willy di blogku yang kuberi MotivatorSuper.com . Keuntungannya memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau ngga mau dia harus memakai pakaianku.
*****
“Kamu sikat gigi pakai garam ya?”
Samuel menatapku dengan kebingungan.
“Odolnya habis. Koko belum bisa beli.”
“Ow.”
“Begini caranya…” ucapku lalu mengambil garam dengan telunjuk tanganku dan menggosokkannya ke gigiku.
“Asin ko!”
Aku tersenyum meski hatiku perih.
“Yah iyalah masa manis.”
*****
12915651891207257977
“Badanmu panas,” keluhku bingung ketika tanpa sengaja menyentuh tubuhnya. “Kamu sakit ya?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut munggil Samuel yang merah. Dahinya berkerut dan bibirnya mendesah menahan sakit.
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun.
Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju ke seluruh tubuhnya.
“Kita ke dokter ya?” usulku, meski aku sendiri tidak yakin mendapat pertolongan tanpa uang yang cukup. Orang miskin dilarang sakit! Kalau berobat harus pinjam sana-sini buat biaya berobat. Setelah sembuh kerja keras lagi buat bayar hutang.
Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab. Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Aku menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami.
Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh. Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku kewalahan menjawabnya.
“Woi, mau ke mana loe?” sergah satpam rumah sakit ketika melihatku. “Enak saja main masuk!”
“Adik saya sakit, pak?”
Satpam tersebut memandangku dan Samuel berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang keturunan Tionghoa.
“Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya mahal. Ngga terima pasien kayak begini!”
Ya Tuhan? Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin sepertiku tidak diterima?
Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk. Aku tetap nekat untuk masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel. Satpam tersebut hanya pasrah dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup tanpa alas kaki. Sandal nyang kupakai tadi putus. Mungkin sudah waktunya untuk diganti.
Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang memandangku. Dinginnya AC menusuk hingga tulang sum-sumku.
*****
12915652261633796255
Empat hari kemudian.
“Hemofilia?” tanyaku kaget.
“Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromosn X,” ucap dokter muda yang cantik perawakannya memberiku penjelasan.
Aku menggagumi kecantikannya.
“Tapi selama ini tidak ada keanehan yang saya temui, seperti pendarahan yang terus menerus atau terjadi benturan pada tubuhnya yang mengakibatkan kebiru-biruan. Kalau boleh tahu, Samuel mengidap hemofilia A atau Hemofilia B, dok?”
“Begitu ya? Hemofilia B.”
Aku terdiam.
“Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan menyatakan kalau dia juga positif HIV.”
Aku berdiri seperti patung. Samuel yang masih berumur enam tahun mengidap HIV? Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata Human Immunodeficiency Virus lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.
Kini aku tahu, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal karena HIV juga. Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditubuhnya. Selama Samuel di rawat tidak ada satu pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.
Masih jelas tergambar di memoriku pembicaraan kami berdua ketika mengajaknya makan di KFC di salah satu mal di bilangan Jakarta Barat.
“Samuel pengen kado natal!” Ungkap Samuel tiba-tiba begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
“Mau kado apa?”
“Cuma pengen boneka Tazmania.”
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit. Beberapa harri ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania yang gede.”
“Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”
“Tapi jangan lupa berdoa ya.”
“So, pasti!”
Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia mengutarakan keinginannya.
“Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum natal banyak tas yang laku.”
“Amin!” teriaknya memecah kesunyian malam.
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil mengusap kepalanya.
Menit berikutnya.
Dia mengajakku berdoa. Biasanya aku yang mengajaknya.
“Tuhan… Berkati Ko Tara ya. Berkati pekerjaannya dan usaha on…”
“Online.” timpalku yang mengetahuinya kesulitan menyebut kata tersebut.
“Usaha onlinenya. Berkati juga bloknya.”
Aku tersenyum ketika dia menyebut kata blog dengak pemakaian huruf K dibelakangnya.
“Nama blognya apa ko?”
“MotivatorSuper.com,” ucapku dengan perlahan-lahan.”
“Berkati MotivatorSuper dot kom ya Tuhan. Biar banyak orang yang diberkati.”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.
*****
“Ko, aku mau pulang saja!”
“Kenapa sayang? Di sinikan enak? Ngga kayak di kos koko.”
“Tapi aku kasihan koko harus berhutang untuk bayar semuanya.”
Diam. Sesak.
“Kamu jangan pikirkan itu ya, sayang. Tuhan pasti cukupkan semuanya.”
Tidak ada pilihan selain meminjam uang dengan Ko Willy dengan jaminan gajiku di potong setengah dari seharusnya aku terima setiap bulan.
Sebatang kara seperti ini tidak bisa berharap pertolongan kepada keluarga. Ah, betapa indahnya kalau masih memiliki keluarga. Teman? Ini Jakarta. Uang ngga jatuh dari pohon kayak daun kering. Siapa yang mau memberikan pinjaman kepadaku tanpa jaminan apa-apa yang bisa disita kalau tidak mampu melunasi hutang yang ada? Memberikan pinjaman ke keluarga sendiri saja masih pakai hitung-hitungan. Kalau mau nyumbang harus di ekspos. Berharap kepada manusia memang sering mengecewakan.
“Kamu harus di rawat di sini supaya cepat sembuh.”
“Ko…. Maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf?”
“Aku sudah merepotkan koko.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak merepotkan kok. Percayalah! Koko malah senang bisa berkorban buat kamu.”
******
12915652635125962
1291565283359961275
1291565305740409917
Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng untuknya.
“Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan lapar. HIV sudah memorak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel. Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal.
“Artinya, kamu akan suatu tempat yang jauh. Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.”
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan menemani koko?”
Akhirnya air mataku juga jatuh. Diantara penderitaannya dia masih memikirkanku.
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang. Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel?” ucapnya sambil meneteskan air matanya.
Aku memeluknya.
“Kamu ngga usah mikirin koko ya, sayang!  Tuhan pasti menjaga koko.”
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.
******
1291565334890052374
Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk Samuel. Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko…”
“Kenapa sayang?”
“Besok aku tidak bisa ikut koko natalan di gereja.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu suka ngga bonekanya?”
“Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko… kado.”
Aku tercengang!
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel. Suaranya semakin pelan.
“Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya”
Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah dia menyelesaikan lagu tersebut. Meski sudah tidak ada lagi harapan Samuel tetap percaya mujizat itu ada.
“Selamat natal ya ko,” ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”
“Ko…”
“Iya, sayang!”
“Koko bisa nyanyikan aku sebuah lagu…”
Tanpa berpikir panjang aku memenuhi permintaan Samuel. Lagu kegemarannya…
Dalam segala perkara
Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari
Semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat
Tak ada maksud jahat
Sebab itu kulakukan
Semua dengan-Mu Tuhan
Reff:
Ku tak akan menyerah pada apapun juga
Sebelum ku coba, semua yang ku bisa
Tetapi kuberserah kepada kehendak-Mu
Hatiku percaya Tuhan punya rencana.
Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku,” bisikku dikupingnya yang dingin.
12915653581392454104
12915653731802124900
*****
TAMAT
( NANTIKAN NOVELnya yang akan segera diterbitkan. AMIN)

Cerpen ini saya dedikasikan untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS), percayalah kalian adalah makluk tuhan yang paling bahagia dan berharga di mata Tuhan dengan keadaan apapun.
“Jauhi virusnya bukan orang

Rabu, 29 Agustus 2012

bening di senjaku

kabin estetik

Derai  air hujan menghujam kerikil kecil, mengalunkan desingan digendang telinga, basahi tubuh kumuh yang tersungkur kaku didepan sebuah rumah yang cukup mewah. Mata yang teramat sayu disertai  wajah yang semakin memucat. Gemeretak gigi beradu meyakinkan betapa kedinginannya lelaki itu.

Jalan teramat sepi, tak ada seorangpun melintas. Mereka sibuk memanjakan diri diatas pembaringan atau sekedar menonton televisi, bersenda gurau dengan anggota keluarga sambil manikmati hangatnya teh, ataupun sekedar membaca koran dikursi goyang dengan kopi serta sedikin cemilan ringan. Keadaan yang amat klop untuk mengusir kebekuan hujan sore ini.

Hujanpun mulai nampak reda ditandai dengan rintik-rintik air yang berpacu dalam sekala yang  teramat  kecil diatas genengan air, membentuk nada yang cukup sahdu.

“Maaf saudara siapa?” suara seorang gadis menggugah kekakuan pemuda itu. Gadis yang termat anggun. Tatacara mengenakan pakaian yang jauh beda dengan gadis-gadis era sekarang yang terbius oleh dunia barat. Baju longgar membalut tubuh gadis itu, belum lagi rok yang dia kenakan tidak membuat kaki sulit untuk bernafas. Kerudung yang dia kenakan amatlah serasi dengan wajah mungil nan polos, sorot matanya yang iba menatap panorama yang dia temui di sore itu.

Mata pemuda itupun terbelalak saat mendengar suara yang  sejuk mengalir dalam telinga dari bibir manis gadis itu. Tangannya masih erat merangkul kedua kakinya yang ia rapatkan kedadanya. Dagu ia tumpukan pada lutut kaki yang masih bergetar.

“Dingin.” gumam pemuda itu dengan nada terbata-bata.

“Mari kerumah orang tuaku.” pinta gadis itu. Dengan sigap dibukanya gerbang rumah. Dilihatnya lagi pemuda yang masih ternyenyak oleh hawa dingin. Kasihan sekali lelaki ini, gadis itu membatin.

“Saudara tidak perlu takut, ini benar rumah kedua orang tuaku.”

Akhirnya pemuda pun  berjalan mengikuti langkah mungil gadis yang berhati mutiara itu. Dengan tubuh yang masih terbungkuk, tangan yang masih dia lipatkan kedada. Matanya menyisir seisi halaman rumah, dipandanginya taman yang rapih dengan beberapa tanaman hias yang terawat dan tertata. Tentu menyuguhkan keindahan sebagai bukti kekuasaan ilahi.

“Tunggu disini yah, saya kedalam dulu.” sergah sang gadis, “Maaf, bukan berarti saya melarang saudara masuk, saya hanya takut ada fitnah.” timpal sang gadis dangan nada lembut. Keaktifannya dirohis tidak membawa kesia-siaan dan kemubadziran. Syari’at yang amat kuat ia gigit dengan gerahamnya. Dia tau pemuda yang ia temui bukanlah muhrim. Namun bukan berarti dia menolong dengan setengah-setengah, syari’atlah yang  membataskan.

“Emm, iya saya faham.” jawab sang pemuda sambil beranjak duduk dikursi, dia teliti sudut demi sudut halaman, tanaman. Dia sibak dengan ratapan keasingan. Sisa-sisa air masih membasahi dedaunan. Sinar matahari yang baru nampak tak begitu cerah, menandakan hari mulai sore.

“Silakan diminum tehnya. Ini juga ada sedikit kue, kamu makan ya. Semoga bisa mengusir rasa dinginmu.” tawar gadis anggun. “Terimakasih, kau sangat baik.” tegas pemuda. Lalu keduanya duduk tersekat meja di depan teras rumah. “Maf, mas siapa?” tanya sang gadis membuka percakapan. “Alfin” jawab pemuda singkat. “Darimana mas?, serta mau kemana?” gadis itu menimpali pertanyaan. Suasana mendadak senyap sesaat, nampak sang pemuda menerawang ke arah langit mencoba mencari jawaban yang terlantun oleh gadis berwajah manis. Dihelanya lagi beberapa nafas berharap ada jawaban yang akan dia lontarkan. “Ada apa mas kok diam?” tegur sang gadis. “Aku dari sebuah kampung keterasingan, suatu hari kamu akan mengerti” jawab Alfin dengan nada yang teramat dingin. Begitu kaku bibirnya untuk merangkai kalimat selaksa beban menggandrungi pundaknya.

Rona kebingungan terpancar dari wajah sang gadis, ada yang tak ia fahami dengan ucapan Alfin. “Ohh demikian, ohya mas sebentar saya kedalam dulu.” sambil melangkah kedalam rumah. Dia sempat melirik kearah Alfin “Astaghfirullahal ‘adzim” sepontan bibir mungilnya beristighfar, “Aku telah memandang berlebih, ampuni aku ya rob. Sebenarnya pemuda itu siap.”, guman sang gadis dalam hati. Diambilnya sebuah bungkusan yang baru ia beli, dan ia papah keluar rumah. “Mas ini untukmu, mas membutuhkannya” sambil menyodorkan bingkisan ke arah Alfin. Alfin menatap kearah gadis yang manunduk dihadapannya.”Kamu baik sekali, tidak hanya memilki kecantikan fisik, tapi hatimu juga baik” Alfin membatin. “Mas terimalah” tawar sang gadis. Alfinpun menerima pemberian gadis berhati mutiara itu, tangan alfin bergetar menerima hibah itu. Embun telah mengalir sejuk dihati Alfin, belum pernah dia temui sosok yang berdiri mematung didepannya. “Trimakasih banyak, kamu siapa?” dengan nada yang masih kaku. “Adinda Laras, panggil saja laras.” jawab laras yang masih menunduk. “Nama yang cantik, secantik hatimu.” celetuk Alfin sambil menelisik langit yang mulai gelap. Laras hanya tersenyum “Alhamdulillah hadza min fadlli robbi” gumamnya dalam hati.

Dua potong kue telah Alfin makan. Tehpun telah menghangatkan tubuhnya sehingga kebiruan di bibirnya nampak memudar. “Laras, saya pegi dulu.”. “Kemana?, pulang?” tanya Laras. “Entah kemana kaki ini akan singgah, mencari tempat singgah.”. “Maksud mas apa?” tanya Laras penuh keingin tahuan. “Kamu akan tau nanti” tegas Alfin sambil beranjak dari kursi, “semoga Yang Baha Baik membalas kebaikan hatimu” timpal Alfin sambil menatap laras yang masih duduk dikursi dengan wajah tertuntuk sedikit meninggi. “amiin”

Laras tak bisa berbuat apa-apa, selain menatap kepergian Alfin. “Alhamdulillah ya rob, Engkau masih memberiku ni’mat yang jauh lebih banyak dari syukurku. Semoga Engkau menuntun langkahku, pemuda itu dalam jalanMU” laras membatin. Di helanya nafas panjang, lalu dia hembuskan. “Tunjukkan HikmahMU hari ini ya rob”.

Waktu melangkah tanpa permisi, satu tahun berlalu begitu cepat mengantarkan usia menuju kedewasaan. Pakaian abu putih tertanggalkan menjadi bukti masa yang berganti. jika kemarin masing bermanja-manja, maka hari ini mulai terkikis malu sehingga kemanjaanpun mulai terbias oleh kedewasaan. Salah satu perguruan tinggi negeri di indonesia, persinggahan baru sebagai ihtiar meraih keridhoanNya. Kedewasaan terangkum dalam ucapan penuh makna. Ahlaqul karimah terpancar dalam gerak langkah, Allah menjadi tujuan, qur’an dan hadist menjadi petunjuk arah serta peta diri dalam jalanNya, iman serta taqwa bekal yang tertanam dalam diri maka amal shalih menjadi senjataamar ma’ruf nahi munkar.

Laraspun dengan lincah menaiki tangga menuju kelas dimana ia memperoleh ilmu serta pemahaman psikologi. Diapun duduk di kursi paling depan “bismillahirrahmanirrahim” gumamnya. Lalu diapun khusu’ memperhatikan penjelasan dosen yang masih terliat gagah serta penuh wibawa.

“Laras, bisa temani saya ke penjualan buku-buku murah?” pinta seorang gadis yang duduk disampingnya. “Okey deh sobatku” laras mengiyakan permintaan sahabatnya. Nihayatuzzain, sahabat yang sangat berarti bagi hari-hari laras, teman sharing dan berbagi. Aya pulalah yang paling mengerti jika dia dilanda masalah. Laraspun tak sungkan meceritakan tentang kehidupannya dengan seorang ayah. Bahkan diapun mempercayakan kisah pertemuannya denagn seorang pemuda beberapa tahun lalu yang membuatnya masih terbingung-bingung, ada seribu lebih tanda tanya yang belum dia mengerti dari tingkah laku pemuda itu, laras masih ingat benar ucapan lelaki itu, “Kamu akan tau nanti”.

Laras dan Aya mengadu kaki diatas trotoar yang menahun, menerobos debu yang menghambur disertai sengatan matahari yang semakin tak bersahabat. Setelah jauh berjalan kaki, nampaklah jejeran penjual buku-buku. Laras dan Aya pun memacu langkah lebih cepat. Setelah sampai, merekapun membidik buku yang mereka perlukan untuk litelatur kuliah mereka. “brukk” suara buku tejatuh. “Maf tidak sengaja” celetuk Laras dan seorang pemuda berbarengan. “Tidak apa-apa” lagi-lagi keduanya berbarengan. Pemuda itupun memungut buku yang terjatuh, lalu segera dia berdiri, dan dia menerawang kearah laras. Dia mencoba mengingat-ingat. Dia merasa telah akrab dengan gadis dihadapannya. Gadis anggun yang telah menolongnya, tapi siapa. Dia lebih keras lagi memutar memori ingatannya. Mencari nama gadis anggun yang mematung dihadapannya. Tidak hanya sang pemuda. Laras pun nampak mengingat-ingat nama pemuda dihadapannya. “Ya rob hamba lupa siapa nama pemuda ini, apa dia masih mengingatku juga”  Laras membatin. “Mas Alfin?” tanya Laras. Sebuah nama yang dia temukan dalam memorinya. “Laras, kamu masih mengingatku” ucap Alfin.

Nampak keduanya memutar memori yang telah membekas dalam sejarah hidup mereka, gadis anggun yang menjadi embun bagi Alfin. Pemuda misterius yang mengundang berjuta tanya bagi laras. “Gimana kabarmu Ras?” tanya Alfin menutup kebisuan sesaat. “Alhamdulillah baik, mas sendiri?” tanggap laras dengan nada santun di iringi senyum manis yang tersimpul menambah keanggunan gadis yang bernama Laras. “Alhamdulillah mas juga baik, sudah kuliah ya sekarang?”. “Alhamdulillah sekarang jadi mahasiswi. Ohya mas hampir aku lupa. Ini sahabatku, Nihayatu zain” timapal laras sambil menengok ke arah sahabatnya yang telah tak bersuara beberapa menit menikmati obrolan Laras dan Alfin.

“Salam kenal, Alfin” celetuk Alfin sambil menelungkupkan telapak tangan didepan dadanya. “Salam kenal juga” balas Aya dengan penuh keheranan, ”Inikah lelaki yang dimaksud Laras, Alfin. Lelaki yang gagah, serasi dengan laras” Aya membatin.

“Maaf, saya harus kembali ketempat saya Ras”. “Di mana tempatmu mas?”. “Maaf Ras, saya belum bisa memberitahunya saat ini”. “Mas punya hutang memberi tahuku tentang asal mas”. Keduanya masuk dalam percakapan yang sengit. “Maaf mas jika perkataanku terlampau menjengkelkan” tegas Laras dengan nada rendah “Ya Rob aku hampir terkalahkan nafsuku, keingintahuanku pada mas Alfin  terlalu berlebih, bimbing hati hambamu ini ya rob. Kepada jalan yang telah Engkau hiasi dengan cinta dan keridhoanMU.” Kesekian kalinya Laras membatin. “Berikan alamat yang kamu tempatin sekarang saja” tegas Alfin penuh wibawa.

Dengan tangkas jemari laras menuliskan alamat, dia tak mau membuat menunggu terlampau lama lelaki yang membuat hatinya gelisah tanpa dia mengerti. “Ini mas”. ”Makasih ya, maaf sesudah dan sebelunya. Semoga Allah selalu memberkahi langkahmu dalam atsmosfir keridhaanNya”. “Amiin, semoga yang demikian juga membingkai hari-hari mas Alfin kedepan.”. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Alfin mengucap salam diiringi langkah kaki yang mulai menjauh dari gadis anggun. “Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh mas.”

Dua tahun telah berlalu terhitung dari pertemuan Laras di penjualan buku langgananya, tak jua Laras dapati kabar tentang Alfin, lelaki yang mulai memasuki hatinya. Warna-warna cinta telah berpendaran dalam hati laras.

Saat sekuntum mawar mulai merekah, aku takut untuk memulai hati.

Bercak hitam terus mengejarku,

Berlahan aku buka episode masa, memerah cinta dalam sauna.

Kesejukan menyayangi telah berhembus dihati, merekah, meranum.

Buahkan ketenangan hati dalam sujud-sujud penghambaan diri.

Duhai damba diri, kujamukan cinta ini sebagai syukurku atas embun yang telah kau taruh diatas gersang masaku.

Karena dengan inilah aku dapat merasakan benih-benih kecintaan pada Dzat

Pemilik hati.


Air mata mengalir mebasahi pipinya yang mungil. Haru telah menyihir wajahnya yang berseri menjadi kelabu, puisi yang dia tulis tak lagi jelas karena tinta yang pudar terkena air mata. Begitu cepat waktu berputar, setrata satu sudah dia sandang.

“Laras.. laras...” Suara Aya memecah kesunyian. “Ini ada surat, ko’ kamu nangis?” sabil merangkul tubuh Laras. “Siapa yang nangis, aku kelilipan ko’” jawab laras sambil menyeka sisa-sisa airmatanya. “Kelilipan apa?, gajah yah? Kalo kelilipan pasir ga sampe segitunya loh” celoteh Aya renyah. “Kamu bisa aja Ya” jawab Laras sedikit tersenyum dilanjutkan dengan helaan nafas panjang. “Nangisin Alfin ya? Yang belum jelas rimbanya. Ko’ kamu bisa ya jatuh hati sama orang yang belum kamu kenal sepenuhnya?” celetuk Aya dengan nada menggoda. “Sok tau banget deh kamu, aku nangisin...” belum selesai Laras berbicara. Aya langsung menyahut “Nur alfin, Pemuda penuh wibawa itukan?, sudah deh ngaku ja Ras”. “Kalo iya kenapa?” tanya laras.  “Wah ngaku juga akhirnya, aku seh ga nglarang. ”Tegas Aya sambil tersenyum. Tapi jauh berbeda dangan Laras yang mulai tak malu-malu menitikkan airmatanya. Laraspun memeluk erat sahabatnya. dia makin tenggelam dalam tangis. Isakan demi isakan terus bergemuruh. “Tenanglah, kuatkan dirimu” Aya mencoba menenangkan hati sahabatnya. tanpa sadar air matanyapun ikut serta meramaikan kesedihan.

“Laras, sabar ya. Bukankah Allah telah mensehati kita yang intinya seperti ini. Diantara orang- orang yang mendapat naunganNya di yaumil mahsar, saat tak ada lagi naungan kecuali naunganNya yaitu pemuda yang saling mencintai karena Allah. Boleh saja kamu mencintai dia, tapi jangan sampai kamu lupa untuk memperbaiki ibadah-ibadahmu kepada Allah” Tegur Aya penuh keibuan, keduanyapun menagis. “Ya sudah buka dulu tuh suratnya, sebelum terhanyut oleh airmatamu yang terus-terusan mengalir itu” celoteh Aya meledek. Dia tak mau sahabatnya terlarut-larut lam kesedihan. “Kira-kira apa ya isinya” suara laras dengan terbata. “Mana aku tau, kalo penasaran lansung saja dibuka, tapi airmatanya di simpen dulu tuh” timpal Aya. “Aku cari angin dulu yah, mau ketempat biasa nyari buku. Kamu baik-baik disini yah. Sebelum maghrib aku pulang lagi ko’. Kan mau tau bapakmu hehe” pamit Aya sambil ngloyor pergi.

Wajah laraspun tak lagi mendung, rupanya mentari telah berkilau kembali dihati laras. Wajahnya kembali berseri-seri. Segera dia buka amplop yang bertengger di ujung tempat tidur.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Teruntuk gadis berhati mutiara disenja hari

Detik terus memburu waktu, semoga Allah SWT anugrahkan keridhaan untuk membingkai sisa nafas kita, seiring angin yang bergemuruh. Semoga kedewasaan Iman Taqwa membingkai hidup dalam jalanNya. Amiin.

Seperti janjiku, setelah kamu baca suratku kamupun akan faham.

Aku terlahir tanpa pernah tau betapa hangatnya pelukan sang ibu. Beliau berjuang mempertaruhkan hidupku saat hari kelahiranku. Kemudian disusul kepergian ayahku karena kecelakaan. Usiaku masih amat kecil saat itu. Aku diasuh oleh kyai sepuh yang ada ditetangga desaku, hanya beliau yang peduli terhadapku. Selain beliau, aku dianggap hina karena kondisi ekonomi yang teramat mencekik jantung keluarga. Sedikit benar memang jika uang adalah segalanya, orang bisa mulia karena uang. Meski kemulyaannya bersifat semu. Hal demikianlah yang sedang menjarah hati manusia, terlenakan harta dan kebahagiaan semu. Hingga hati nurani tergadai hanya untuk memanjakan nafsu. Memang tidak seluruhnya.

Hari-hari aku lalui bersama Kyai  Haydar yang begitu telaten mendidik saya. Bahkan saya dianggap sebagai anaknya. Dari beliaulah nama NUR ALFIN yang kini aku sandang.

Hingga suatu hari aku merasakan keterasingan yang teramat sangat, sehingga kepiluan menghantarkanku pada keputusasaan. Begitu tak adilanya Sang Pencipta yang telah mengambil orang yang telah melahirkanku, tanpa aku melihatnya. Seorang ayah yang barang sebentar mengasuhku. Hal ini terus merongrong raga yang semakin kehilangan jiwa. Aku pun bertekad untuk pergi dari kampung itu untuk mengubur kenangan yang membuatku merasa terasing.

Aku terus berjalan tanpa tau kemana tujuan serta tempat dimana aku bisa manyandarkan lelahku, meski sejenak. Tak aku tau siapa diriku, untuk apa diriku, apa maksud tuhan menyengsarakanku. Setumpuk protesan diri bertubi-tubi mengeroyokku dari berbagai arah. Akupun semakin hilang pandang, linglung.

            Tanpa sadar aku memandang hidup ini tidak beraturan, akalku terpenjara. Akupun menguatkan diri untuk membebaskan akalku. Mengapa aku diciptakan kedunia yang menyangsarakan?

Aku telusuri  memoriku, aku teriangat pada buku yang aku pungut dari sisa-sisa pabrik yang sedang cuci gudang. Sebuah buku yang amat tak terawat, kumal, dengan halaman yang tak teratur. Berkat Kyai Haydarlah aku bisa menuai pendidikan. Meski sekolah yang tak layak dan tidak jauh beda dengan peternakan. Namun aku tetap bersyukur.

Semua benda memiliki realitas tak berbah dan tetap, sebuah teori fisikawan yang membuatku marasa ganjil. Tak sesuai dengan nasehat yang aku peroleh dari kyai haidar bahwa Allah tidak merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang akan merubahnya. Entah pengetahuanku yang salah atau keliru saat itu.

Dan akupu mengingat lagi, sebuah teori fisika kuantum dan prinsip ketidak pastian Heisenberg. Sifat benda sesungguhnya berubah tergantung sudut pengamatan. Akupun mulai merubah diri, mengingat-ingat pelajaran yang aku peroleh dari Kyai haydar. Hingga aku singgah disebuah rumah syurga, ditengah dingin yang menggerogoti tubuh. Seorang gadis anggun berhati mutiara menolongku, bidadari yang membantuku menemukan cahaya-cahaya hidupku yang redup. Bidadari yang membangunkanku dari lelap jiwa, rintih raga yang mati rasa. ADINDA LARAS, itulah nama dari bidadari itu..

            Air mata mengalir deras dipipi mungil Laras, tersendu-sendu dalam haru. Sedih, haru dan bahagia bercampur satu dalam hatinya. Dipeluknya Surat yang belum selesai terbaca. Laras merebahkan badannya diatas pembaringan. Matanya terpejam, mencoba menutup jalan air mata. Tapi percuma, airmatanya terus mengalir. Dihelanya nafas yang cukup panjang, matanya kini terbuka dan menyibak langit-langit kamarnya. “Bimbing hatiku ya Rob, atas apa yang aku rasa pada lelaki di sore itu. Tuntun aku padanya untuk meraup kautsarMU” rengek Laras dibarengi sesenggukan.

Nama itulah sering hadir dalam hatiku, yang menjelma menjadi bidadari yang terus memotifasiku untuk merubah diriku. Allah termat baik terhadapku, hingga aku dipertemukan dengan gadis berhati mutiara. Aku belum mampu mensyukurinya.

Maaf sebelumnya jika aku terlalu lancang bicara. Wajahmu teramat dekat dalam pelataran hidupku yang telah kau rubah menjadi taman bunga. Rindu yang tak biasapun aku rasa semenjak pertemuan kita di sore itu. Namun aku sadar diri, aku bukan lelaki baik. Dan akupun mencoba menghindar, berharap tak lagi ada pertemuan yang akan menyuburkan lagi benih-benih yang tumbuh dihati. Namun di penjualan buku itu, Allah mempertemukan aku dengan gadis berhati mutiara untuk kedua kalinya. Akupun merasakan embun yang teramat sejuk, meski aku mencoba mengelak saat itu. Namun tak aku pungkiri, aku teramat bahagia, meski aku tau ini terlampau jauh aku berharab. Tak mampu rasanya jika kekuranganku menyakiti gadis yang jauh lebih baik dariku.

Maafkan aku, surat ini  mengganggu hidupmu.

Semoga Allah selalu menaburkan Rahmat serta Ridhonya.

Wassalamu’alaikum warohmatulllahi wabarokatuh..


“Andai kamu tau mas, akupun merasakan hal yang sama. Namun bagaimana aku mengabarimu, tak ada alamat yang mas cantumkan” lenguh Laras, airmatanya belum juga mengering. Tubuhnya tergolek seakan berat untuk bangkit. “Ya Rob tunjukkan jalaku, aku mencintainya. Jika dia adalah Imamku maka pertemukan aku dalam cintaMU. Jika dia bukan imamku maka hapuskan perasaanku padanya. La Haula Wala Quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adlim” doa yang iya panjatkan pada Dzat Pemilik Cinta.

Mataharipun mulai beringsut menuju peraduan. Setelah shalat ashar Pak Abbas tiba di asrama yang ditempati oleh anak semata wayangnya. ADINDA LARAS. Kerinduannya pada sang anakpun terobati, ada bangga dalam diri yang mulai menua. Besok anaknya akan diwisuda. Meski kebahagiaan itu tidak dihadiri isrinya yang merupakan ibu yang melahirkan gadis berhati mutiara. Namun syukur tetap dia panjatkan, karena dia karuniai anak yang sholehan dan berbudi luhur. Malamnya Pak Abbas tidur dikamar tamu asrama, meski iya masih ingin berbincang dengan anaknya.

Sedangkan Laras masih digandrungi gundah, akankah dia bisa dipertemukan dengan lelaki di sore itu. Laras berdiri di jendela kamar, langit malam dia sibak penuh arti. Lamunannya melayang-layang dilangit luas bersama bintang-bintang yang seolah menghibur hatinya. Tak dia sadari kedatangan sahabatnya yang cukup lama berdiri dibelakangnya. Aya sengaja tidak menggubris sahabatnya.

“Eh Aya, ko ga salam dulu?” celetuk Laras saat dia menoleh ke belakang. “Sudah ko’. Makanya kalo nglamun jangan khusu’-khusu’ Ras” Aya membela diri. “Maaf Ya, kamu tau sendirikan isi surat itu. Karena itulah aku bingung seperti saat ini. Aku mencintainya” ucap Laras haru. “Allah akan mempertemukan kelian besok” suara Aya rendah. “Bagaimana mungkin?”tanya Laras. “Tiada yang ga mungkin bagi Allah, kun fayakun.”jawab Aya. “Kita duduk dulu yuk Ras, ada hal yang ingin aku sampaikan”. Keduanyapun duduk berdekatan. “Allah segera mengabulkan doamu sahabatku, tadi sore aku bertemu Alfin ditempat penjualan buku, dan aku sengaja memeberi tahu keadaanmu disini, dan perasaanmu. Aku menyampaikan hal ini karena aku bisa merasakan perasaanya padamu. Ini nomor HP-nya. Dia juga akan datang di wisudamu besok”. Mata Laras terbelalak lebar diiringi airmata “Benarkah apa yang kamu bilang ya?” tanya Laras diiringi tangisan, “Hu’um” jawab Aya singkat. Matanya terpejam sembari dia rebahkan kepala di bahu sahabatnya, menangis sejadi-jadinya menopang kebahagiaan yang baru dia dengar.

Esok harinya, saat mentari gagah menyabut hari baru. Angin yang termat sejuk. benar saja apa yang di sampaikan sahabatnya. Alfin menemuinya. “Trimakasih Mas sudah mau hadir di wisudaku” Laras berterimakasih pada pemuda yang berdiri dihadapannya. “Tidak perlu Laras berterima kasih, Mas turut bahagia.” Balas Alfin, “Surat yang mas kirim sudah sampai?” timpalnya. “Sudah Mas, kenapa?”. “Ga apa-apa” jawab alfin kaku. “Perlukah surat itu Laras jawab?, sementara Mas sendiri sudah tau jawabannya.” Tambah Laras masih tertunduk. “Mas ga faham.”.  “Laras berharap mas Alfin yang mengimami hidupku.” Terang laras dengan nada rendah. “Alhamdulillah. Kamu selaksa embun di senjaku” Alfin berhamdalah diikuti oleh Aya yang berdiri dibelakang Laras. Air mata kebahagian meleleh di pipi Aya dan Laras. “Janji Allah tidak pernah ingkar, Allah tak akan rela melihat hambaNya yang selalu berdzkir dan menggantungkan diri padaNya jatuh dalam kenistaan” bisik Aya sambil memeluk tubuh Laras penuh keibuan.

“Kalian disini rupanya” Suara serak Pak Abbas mengagetkan.

“Maafkan Laras Yah, membiarkan Ayah sendiri di kursi tamu.” Terang laras.

“Pemuda ini siapa hayo?” goda Ayah laras. “Jangan-jangan calon menantu Ayah ya?” ledek Pak Abbas menjadi. “Kalau memang iya, apa Ayah merestui” jawab Laras dengan nada meledek, sambil diliriknya Alfin yang tersenyum kecil. “Jaga anak bapak yah” pinta Pak Abbas sambil menepuk punggung Alfin. Hampir-hampir airmata kebahagiaan tumpah dimata Pak Abbas. “Insya Allah Pak” tegas Alfin di iringi dengan berjabat tangan dengan Ayah Laras. Ayah laraspun merangkul Alfin erat.



muzaelfarabi

Rabu, 16 Mei 2012

entah dari mana posting ini KUPIKIR..!!!


Jejak kakiku pernah berada disini
Didalam kegelapan yang mengukung jiwa
menggeliat berusaha kembali melawan dunia

Kerinduan menggebu kembali mencoba menggenggam cahaya
Yang entah dimana, kapan dan siapa
Yang manakah untukku?
Berada dicahaya atau kembali kegelapan?

Ah... tersenyum luka untuk sang cahaya
Tidak menyadari diri, putih bukan tempatku
Jalan cahaya dan kegelapan tidak akan bisa bersama
Hitam tetaplah hitam

Putih tidak akan mencoreng dirinya dengan hitam
Karena putih tidak mau bercermin kembali kepada hitamnya dirinya dahulu
Sang hitam adalah sebuah cermin yang retak untuk sang cahaya
Yang akan menodai jalannya
Meninggalkan, tertinggalkan, terbuang, tersakiti

Kembali kuberada didalam buaian kenyamanan sang kegelapan
Ternyata itulah kebenaran diriku
Gelap yang dahulu tertinggalkan 
Tersenyum penuh kemenangan

Cinta, harapan, kepercayaan, harapan
Hal membuat manusia kuat tapi juga menghancurkan
Semuanya raib ketika topeng kepura-puraan memasungnya
Tapi sang gelap akan terus merindukan sang cahaya
Dibawah bayang-bayang diam

Selasa, 27 Desember 2011

si lhie leek kecil


TIDAK HAFAL ADZAN, DISURUH DUDUK LAGI.

Saat itu saya kelas 4 di SD kersana - brebes, dan Ibu menyuruh saya belajar mengaji di surau kecil di kampung sebelah.

Setiap sebelum Maghrib, saya sudah berdebar gelisah, karena jarak yang kira-kira 600 meter dari rumah ke surau - bagi anak sekecil itu - cukup jauh, melalui sawah, yang kalau malam gelap dan mengerikan.

Sesampai di surau, Pak Ustad menyuruh saya adzan. Awalnya saya menolak, karena saya belum pernah melakukannya, dan yang terbayang di benak kecil saya saat itu - seluruh kampung berhenti melakukan apa pun untuk mendengarkan adzan saya yang fals.

Ooh .. kaki saya gemetaran, jantung sudah di leher, bibir jalan-jalan sendiri ke mana-mana, tapi apa daya … Pak Ustad memaksa.

Saya berdiri seperti wayang kulit ditiup angin, dan mengeluarkan semua 'tenaga dalam' yang sudah gembos sejak tadi itu - untuk mulai melantunkan adzan.

Sejenak setelah saya mulai, terdengar kegelisahan di dalam surau, dan Pak Ustad menowel kaki saya, dan berbisik: Heh … salah. Ulangi …"

Saya memulai lagi, Pak Ustad nowel lagi. Saya coba lagi lebih keras, Pak Ustad nowel lebih keras. Saya coba lagi sangat keras, Pak Ustad menarik sarung saya dan memaksa saya duduk.

Ooh … dunia ini terasa sangat kejam kepada anak kecil yang ketakutan dan terpaksa.

Seorang anak kecil yang lain di suruh Pak Ustad berdiri menggantikan saya, yang dengan fasih dan indah melantunkan adzan di Maghrib yang galau itu.

Teman saya itu juara ngaji di surau itu, dan mungkin sekarang sudah jadi anggota MUI.

Saya berjalan gontai, lupa akan semua hantu dan jin yang selama ini memomoki pikiran kecil saya - setiap saya menembus jalan di tengah sawah yang gulita itu.

Di rumah, Ibu bertanya: Lasise', kenapa kamu diam?

Saya menggeleng dengan wajah yang hampir robek dengan tangis. Saya masuk kamar dan menangis, merasa demikian rendah karena gagal di hadapan seluruh kampung.

Hati saya yang masih kecil itu berdoa, semoga saya akan menjadi lebih kuat menghadapi kegagalan dan kekecewaan saat saya dewasa nanti.

Dan saya berjanji, tidak akan berlaku kasar dan semena-mena menggampangkan kesedihan anak-anak saya di masa depan, saat mereka merasa kecewa karena kegagalan.

Orang tua tidak boleh menyepelekan rasa kecewa anak kecil, karena bagi anak kecil - kekecewaan mereka terasa lebih besar daripada kekecewaan orang dewasa.

Setelah kejadian yang memalukan di surau itu, saya tetap melakukan kesalahan dan gagal dalam banyak hal, menyesal dan menangis, terkadang bersembunyi menanggung malu, tapi saya seperti bola bekel - tetap melanting naik setelah jatuh, dan semakin tinggi lantingan saya - jika saya dibanting.

Ternyata, bukan jatuhnya yang penting, tapi bangkitnya.

Ternyata, semakin keras bantingan hinaan kepada kita, semakin tinggi kita dinaikkan oleh Tuhan - jika kita ikhlas.

Sayangilah anak-anak kecil.

Merekalah tempat kita bersandar di masa tua.